Welcome to My World

Terima kasih buat kawan - kawan sekalian yang sudah meluangkan waktunya untuk mengunjungi Blog ku.
Semoga ada sisi baik nya yang bisa diambil dari sini.

Minggu, 05 April 2009

Micro Teaching......

Tanggal sebelas Maret yang lalu, aku mendapat telpon dari salah satu SD IT yang ada di Palembang untuk Micro Teaching pada tanggal 13 Maret. Sebelumnya memang aku pernah mengirimkan lamaran kesana untuk posisi guru matematika. Tujuan aku memasukkan lamaran kesana, pertama ada keinginan untuk kembali ke Palembang dan kedua ingin kembali ke profesi awal sebagai seorang guru.

Dilatarbelakangi dua tujuan tersebut, tanpa berfikir panjang aku pun langsung memesan tiket PP untuk ke Palembang. Alhamdulillah aku diberi kemudahan mendapatkan tiket dengan harga murah. Maka pada tanggal 12 malam, selepas jam kantor akupun langsung menuju bandara untuk mengambil penerbangan terakhir ke Palembang. Seyogyanya pesawat tersebut berangkat pada pukul 20.10, tetapi krn ada sesuatu dan lain hal, maka pesawat baru take off pukul 9.00.

Setelah mengalami pendaratan yg cukup menegangkan (ceritanya ada disini ) akhirnya aku dapat menjejakkan kakiku kembali di tanah kelahiran ku sekitar pukul 22.30. Bambang, adik bungsu ku sudah menanti sejak satu jam yang lalu. Saat itu, malam sudah tergolong larut untuk ukuran Palembang, Bambang memacu motornya dengan santai, sambil sesekali bercerita tentang segala hal. Setengah jam kemudian, kita tiba dirumah, Ibuku dan adik perempuanku Pipit langsung terjaga begitu mendengar suara motor Bambang. Bukannya langsung istirahat untuk mempersiapkan Micro Teaching besok, aku malah bercerita ttg perjalanan ku ke Banjarmasin beberapa hari yang lalu. Setelah puas bercerita sekitar pukul 2 pagi kita pun masuk ke kamar masing2 dan tidur......

Janji ketemu dengan pihak sekolah jam 7.00, tetapi aku baru tiba disana pukul 7.30. Begitu mau memasuki gerbang sekolah, aku langsung dihadang oleh satpam disana dan menanyai apa keperluan ku dan ingin bertemu dengan siapa. Setelah menjelaskan maksud dan tujuan kedatanganku, akhirnya aku dipersilahkan memasuki gedung sekolah tersebut. Bagitu masuk ke pintu utama, aku langsung ditegur oleh salah seorang guru "put off your shoes please". Aku baru mengetahui, ternyata di area sekolah tersebut dilarang menggunakan alas kaki.

Setelah berbasa basi sebentar, memperkenalkan diri, dijelaskan beberapa peraturan dan ketentuan yang berlaku disekolah tersebut, aku pun ditanya kembali, apakah tetap ingin melanjutkan Micro Teaching pada hari itu. Sebetulnya, setelah diberitahukan peraturan dan ketentuan tersebut, aku sudah tidak berminat untuk mengajar di sekolah ini, tetapi karena didera rasa rindu yang menggebu untuk merasakan suasana kelas dan tentunya aku tidak mau rugi karena telah habis banyak biaya untuk menghadiri test ini, maka aku pun mengiyakan untuk melaksanakan Micro Teaching pada hari itu.

Sekitar pukul 7.45, aku diberikan materi Perkalian pada bilangan pecahan yang akan diajarkan di kelas 5 selama satu jam pelajaran (35 menit) sebagai bahan penilaian terhadap cara mengajarku nantinya. 5 tahun sudah aku sudah menanggalkan profesiku sebagai guru matematika, ada rasa nervous dan excited pada saat itu. Begitu membuka pintu kelas, melihat tatapan ingin tahu dari para siswa, inilah yang menjadi kekuatan ku untuk terus melanjutkan Micro Teaching pada hari itu.

"Assalammu'alaikum" sapa ku kepada para siswa, dengan antusias yang bercampur dengan keheranan mereka menjawab salamku "Wa'alaikumsalam". Mungkin di benak mereka mempertanyakan, siapa guru yang baru saja menyapa mereka dan mengapa guru mereka yang sebenarnya mengambil tempat di belakang, duduk bersama mereka. Menjawab keheranan mereka, akupun memperkenalkan diriku.

Sambil mengingat2 apa saja yg harus aku lakukan dalam mengajar, introductory aku ambil sekitar 5 ~ 7 menit, menyapa siswa, menanyakan kabar mereka dan menanyakan materi terakhir yang sudah diberikan. Setelah itu, memasuki paruh kedua pelajaran, aku mengajak siswa untuk mengingat2 materi sebelumnya, dimulai dari apa itu bilangan pecahan dan apa saja operasi bilangan itu sendiri. Setelah di refresh, barulah aku mengajak para siswa untuk bersama sama merumuskan apa saja yang harus dilakukan dalam memecahkan satu kasus dengan menggunakan perkalian pada bilangan pecahan. Tanpa terasa aku diingatkan bahwa waktu sudah hampir habis, maka mau tidak mau aku harus memperikan summary pada materi yg baru saja dibahas.

Hahh....... merasakan suasana kelas, melihat siswa yg antusias menyimak, bertanya, tidak memperhatikan, membuat kegaduhan, cukup mengobati rasa kangen ku pada saat itu. Tetapi karena apa yg akan didapat dan tuntutan yg harus dikerjakan tidak sesuai dengan apa yg aku bayangkan jika aku diterima disana, maka dalam hati aku memutuskan tidak akan melanjutkan proses penyeleksian ini.

Agak mengherankan memang, salah satu institusi pendidikan yang menamai dirinya Islam Terpadu, memberikan punishment terdahap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan, semuanya diukur dengan materi. Tuntutan yg mereka berikan terhadap guru, tidak sesuai dengan apa yg mereka berikan terhadapnya. Biaya pendidikan yang tinggi yang dibebankan terhadap siswa ternyata berbanding terbalik dengan apa yang didapat para pengajar disana. Salah seorang temanku yg telah lebih dulu mengetahui kondisi di sekolah ini mengatakan "mereka menganggap siswa dan orang tua itu adalah client yg harus mereka puaskan dalam institusi pendidikan ini".

Jadi, dengan kasus ini aku sempat berfikir, apa yang terjadi dengan pendidikan di Indonesia saat ini. Apakah tujuan dan hakikat dari pendidikan telah bergeser, dari mendidik dan mencerdaskan siswa ke memuaskan orangtua siswa dengan pendidikan yang mahal ?

2 komentar:

buJaNG mengatakan...

Salam kenal... Blogwalking nih...

Widya mengatakan...

Makasih buat kunjungannya bujang :)
Salam kenal juga....

Maliq & D Essentials

Maliq & D'Essentials ~ Pilihanku

Get more songs & code at www.stafaband.info