Welcome to My World

Terima kasih buat kawan - kawan sekalian yang sudah meluangkan waktunya untuk mengunjungi Blog ku.
Semoga ada sisi baik nya yang bisa diambil dari sini.

Rabu, 14 Oktober 2009

Makanan Wajib Saat Lebaran Idul Fitry

Setelah satu bulan berpuasa selama Ramadhan, Idul Fitry adalah saat saat yang paling di nantikan oleh jutaan umat muslim di seluruh dunia. Di moment ini, kaum urban yg mengais rejeki di Ibu kota beramai ramai pulang ke kampung halaman hanya untuk sekedar merayakan hari yang suci ini bersama-sama sanak keluarga.

Tak terkecuali aku yang sudah 5 tahun terakhir ini selalu melaksanakan ritual mudik/pulang kampung setiap hari raya Idul Fitry. Entah dari mana tradisi mudik ini bermula, tapi yang pasti untuk moment hari raya apapun dan di belahan dunia manapun, tradisi mudik ini pasti ada. Idul Fitry di Indonesia, Imlek di China dan Diwali di India.

Berbicara tentang hari raya, tentu saja tidak terlepas dari menu menu khas yang selalu tersaji. Di rumahku ada beberapa makanan yang menjadi menu wajib di setiap Idul Fitry.

Pempek
Sebagai orang Palembang, makanan yang satu ini sepertinya menjadi menu wajib di setiap rumah. Anehnya, walaupun di rumah sendiri sudah tersedia, pada saat kita berkunjung ke rumah saudara dan tetangga, kita pun akan tetap menanyakan pempek. Padahal rasanya tetap sama. Jadi jangan heran, jika di kota2 lain para Ibu rumah tangga ribut karena harga daging dan ayam yang di tinggi, di Palembang orang2 akan ribut karena harga daging ikan yang sudah di haluskan melonjak secara signifikan. Terutama Ikan Gabus dan Ikan Tenggiri, karena ini merupakan bahan utama pembuatan Pempek.

Es Melon
Menu ini pertama kali aku coba sewaktu acara buka puasa bersama di rumah temanku semasa kelas 2 SMA dulu. Karena pada dasarnya aku memang suka Melon, jadi untuk hidangan di hari raya kenapa tidak aku juga coba sajikan yang berbau Melon. Pembuatannya cukup mudah, ini aku bagi2 resepnya untuk kawan2 coba:
1. Buah Melon, keruk daging buahnya dengan menggunakan sendok.
2. Biji Selasih, di rendam dengan air hangat.
3. Sirup rasa Melon
4. Es Batu
Campur semua bahan menjadi satu dan Es Melon pun siap di hidangkan......

Kurma Goreng Keju
Menu ini baru 3 tahun terakhir menghuni meja makan rumahku di palembang pada saat hari raya tiba. Aku mendapati resep ini dari nenekku sewaktu aku tinggal bersama beliau. Sederhana cara pembuatannya, tapi jangan tanya rasanya, sangat istimewa. Ini menjadi menu favorit adek ku yg nomor dua dan selalu di pertanyakan oleh para tamu ketika bersilahturahmi kerumahku.
Aku juga akan berbagi resepnya disini:
1. Kulit lumpia yang siap pakai
2. Buah Kurma, buang Bijinya
3. Keju Cheddar, di parut
4. Minyak goreng.
Isi buah kurma yg telah dibuang bijinya dengan keju parut kemudian bungkus dengan kulit lumpia. Goreng dengan api kecil, angkat begitu sudah terlihat kecoklatan. Kurma Goreng Keju pun siap dinikmati....

Selamat Mencoba :)

Senin, 12 Oktober 2009

Indahnya Kebersamaan ...


Mendapat undangan dari salah seorang senior Alumni SMA Negeri 2 Palembang (SMANDUPA) untuk menghadiri acara halal bi halal melalui Facebook, merupakan satu kehormatan buatku.
Mengapa demikian ? yang menjadi penggagas dan panitia untuk acara ini adalah para alumni yang usia nya jauh diatas ku. Mereka merupakan lulusan antara tahun 1960 an ~ 1970 an.


Bertempat di restaurant Pulau Dua, Komplek Taman Ria Senayan, merupakan pilihan tepat untuk acara ini. Menurut undangan, acara dimulai sejak pukul 10.00 pagi, tetapi aku beserta teman2 ku tiba disana sekitar pukul 12.
Sempat bingung begitu melihat para alumni yang hadir, mereka berumur jauh diatas kita. Sempat terpikir kalo kita salah masuk ke tempat acara, tetapi begitu terdengar MC berbicara bahasa Palembang, tidak salah lagi, inilah kumpulan Alumni SMANDUPA.

Sempat canggung dan minder untuk menyapa, tetapi dengan penuh kehangatan, mereka tidak ragu untuk menyapa dan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Suasana pun mulai terasa menyenangkan, mulai dari berjabat tangan, memperkenalkan diri masing2, hingga saling bertukar informasi mengenai kegiatan dan tempat tinggal.

Semua bermula dari dunia maya, entah itu melalui blog maupun situs jejaring sosial, banyak bertemu dengan teman-teman lama semasa SMA, saling bertukar nomor telpon dan sepakat mengadakan acara untuk kumpul bareng, akhirnya terbentuklah satu wadah bagi para Alumni SMANDUPA. Sekian tahun tidak terdengar kabar, tiba2 di pertemukan di dunia maya, tentu saja kesempatan ini tidak disia siakan untuk saling bertukar informasi satu sama lain.

Kembali ke acara halal bi halal, sembari makan siang para alumni di hibur oleh sesama alumni sendiri. Masing2 angkatan yg ada, mengirimkan wakilnya untuk menyumbangkan suara emas mereka untuk membuat acara supaya lebih semarak. Walaupun hujan, tidak menyurutkan semangat para alumni untuk bergoyang mengikuti irama yang sedang di mainkan. Lihatlah Ibu Mimmy dan Pak Suhardi sambil menggenggam payung, kaki kaki mereka tidak berhenti untuk terus bergoyang mengikuti irama lagu Terajana yang sedang di senandungkan oleh alumni lulusan tahun 1989 (maaf aku lupa nama beliau).

Banyak hal yang bisa kita pelajari dari para alumni, walaupun sudah merengkuh sukses, mereka tetap bersifat rendah hati, tidak ragu untuk mulai menyapa dan mengakrabkan diri dengan kami para junior yang mungkin seumuran dengan anak-anak atau mungkin cucu cucu mereka. Persahabatan merupakan segala-galanya, walaupun sekian tahun tidak bertemu dan bertukar sapa, tetapi begitu ada jalan untuk kembali merekatkan tali silahturahmi, maka kesempatan ini tidak akan disia siakan.

Jayalah terus IASMA PUSPA.........

Sabtu, 23 Mei 2009

Wisata Kuliner di Berbagai Tempat

Setiap kali aku bepergian entah itu hanya hanging out di pusat perbelanjaan ataupun ke satu kota / daerah untuk pertama kalinya, sedapat mungkin aku akan menjajal beberapa kuliner.
Ini beberapa contoh kuliner yang sempat aku abadikan.

Soto Banjar.
Ini makanan Khas daerah banjarmasin. Soto ini berisi suwiran daging ayam, so un dan telur rebus. Bisa dimakan bersama nasi atau Lontong. Jika ingin mendapatkan rasa segar, bisa ditambahkan perasan air jeruk nipis.




Sate Ayam Khas Banjar.
Tidak berbeda dengan sate-sate ayam pada umumnya. Sate ini pun disajikan dengan bumbu kacang. Yang membedakan nya hanya warna bumbu kacang nya saja. Jika Bumbu kacang pada umumnya berwarna coklat, maka bumbu kacang disini berwarna kemerahan.


Sop Ayam Banjar.
Lagi - lagi dari Banjarmasin, sop ini sama seperti sop ayam pada umumnya, berisi potongan daging ayam, wortel, kentang, so un dan irisan tomat. Yang membedakan, ada tambahan santan kelapa di sop ini.



Kudapan khas daerah Banjar (aku lupa namanya ;p)
Jika selama ini dari buah cempedak yg bisa dimakan adalah daging buah dan biji nya, maka makanan yang satu ini berasal dari kulitnya. Kulit cempedak ini setelah direndam dengan bumbu, kemudian di goreng agar bisa disantap.
Rasa nya gurih.


Ikan Haruan Bakar.
Sempat tertipu dengan namanya. Maksud hati ingin mencari makanan yang belum pernah dicicipi, tapi ternyata jenis ikan yg satu ini sudah akrab dengan lidah ku. Haruan adalah sebutan orang Kalimantan Selatan untuk Ikan gabus.
Seperti masakan ikan bakar pada umumnya, disajikan dengan sambal dan lalap-lalapan.


Tahu yang sudah di olah dengan bumbu jepang, disajikan setelah digoreng. Ada beragam bumbu yg dicampurkan disini, rasa jahe sangat dominan.
Makanan ini disebut Tahu Goreng dgn Saus Wasabi.






Bebek Peking Bakar.
Ini hasil hunting makanan di Plaza Semanggi di rumah makan Duck King.
Sehabis dari Gramedia Book fair di Senayan, aku, ulfah dan tika di traktir Pak Fajar makan disini.





Gulai Udang.
Masih dari daerah Banjar, udang besar ini dimasak dengan santan. Rasanya gurih.






Mie Tasik dengan Bakso dan Pangsit.
Ini hasil berburu kuliner di Cibinong. Sehabis menjenguk Mba Yanti yg habis melahirkan di Cilebut, Mba Kikieb men traktir ku makan Mie tasik ini. Rasa nya Gurih n enak...




Buku: Rembulan Tenggelam di Wajahmu, Tere Liye



Judul Buku : Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
Penulis : Tere Liye
Pembaca : Remaja
Jenis Buku : Novel
Penerbit : Republika



Membaca Novel ini kita diajak berkelana untuk menyelami kehidupan seseorang yang bernama Rehan yang menjadi tokoh utama di cerita ini.
Sang tokoh di besarkan di sebuah Panti Asuhan selama 16 tahun. Disini dia merasa mendapat perlakuan yang tidak layak dari pengelola panti yang dia anggap sok suci. Setelah masa 16 tahun di Panti Asuhan yang dia anggap sia-sia, Rehan memutuskan untuk pergi. Selepas dari panti Rehan menjalani kehidupan yang tidak menentu, mulai dari emperan terminal hingga ke lapak2 di pinggir rel. Hingga suatu kejadian yang akhirnya memaksa Rehan untuk berjuang bertahan hidup di Ibu kota.

Memulai kehidupannya di Ibu kota, Rehan sempat bernaung di sebuah rumah singgah yang mempertemukannya dengan beberapa teman yang akhirnya disebut sebagai keluarga olehnya. Disini dia berkesempatan memperoleh pendidikan yang nantinya akan menghantarkannya menjadi salah seorang pemilik kerajaan bisnis yang disegani suatu hari kelak.

Dikisahkan pula bagaimana Rehan menemukan cinta sejati nya di sebuah gerbong kereta api sewaktu di perjalanan kembali ke kota asalnya. Dia memutuskan kembali kesana untuk melupakan kenangan pahit bersama Plee yang hidup nya harus berakhir di tiang gantungan. Di kota asal nya inilah Rehan mulai menata hidupnya dengan bekerja sebagai buruh bangunan. Rehan adalah seorang pembelajar yang baik, maka tidak heran dalam waktu singkat dia mampu mendapatkan posisi sebagai kepala mandor di dalam proyek2 yang diikuti nya. Di kota ini juga Rehan memulai dan mengakhiri kehidupan berumah tangga nya dengan seorang perempuan bernama fitri.

Satu kebiasaan Rehan yang tidak pernah berubah adalah melihat rembulan. Mulai dari teras panti asuhan, di atap rumah singgah, di tower air hingga di lantai tertinggi gedung miliknya.

Potongan-potongan kehidupan Rehan yang dikilas balik di novel ini adalah untuk menjawab lima pertanyaan yang terus membayangi nya. Apa saja kelima pertanyaan itu dan bagaimana jawaban-jawaban atas kelima pertanyaan itu. Silahkan membaca novel yang sarat makna akan arti cinta, pengorbanan dan ambisi di dalam mengarungi lautan kehidupan di dunia ini.



Update Pernah Pernik Batu2an dari Martapura

Awal Mei lalu aku kembali lagi ke Martapura, Kalsel. Menemani adikku yg kedua untuk refeshing disana sekaligus mengunjungi keluarga kakak sepupuku. Tentunya aku tidak melewatkan acara belanja2 pernak pernik yang terbuat dari bebatuan di Martapura. Ini beberapa barang yang sempat masuk kantong belanjaan ku, dan jika ada yang berminat bisa langsung menhubungiku. Selamat menikmati.....


Bros berukuran besar dengan Kristal besar.
Harga: Rp. 45,000









Gelang dari Batu Akik yang di rangkai dengan perak.
Harga: Rp. 70,000







Bros sepasang, satu kecil dan satu sedang.
Harga: Rp. 45,000








Gelang dari Batu Kecubung yg dirangkai dengan karet.
Harga: Rp. 50,000









Bros bundar berukuran besar dengan kristal kecil-kecil.
Harga: Rp. 45,000








Bros berukuran sedang dengan kristal putih yg jika dilihat dari sisi manapun warna kristal nya akan berubah ubah.
Harga: Rp. 40,000







Bros berukuran besar dengan kristal warna-warni.
Harga: Rp. 50,000














Bros berukuran besar berbentuk bunga dengan kristal2 kecil.
Harga: Rp. 45,000









Gelang baris 2 yg dihias permata2 kecil warna-warni, di rangkai dengan karet.
Harga: Rp. 25,000












Gelang baris 1 yg dihias permata2 kecil warna-warni, di rangkai dengan karet.
Harga: Rp. 20,000








Senin, 04 Mei 2009

Buku: Negeri Van Oranje


Judul Buku : Negeri Van Oranje
Penulis : Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana
Penerbit : Bentang Pustaka








Ini salah satu buku yang baru selesai aku baca minggu lalu. Novel ini cocok menjadi panduan bagi siapa saja yang ingin mengenyam pendidikan di negeri Kincir Angin, Belanda.

Novel ini mengisahkan persahabatan dan liku-liku kehidupan lima mahasiswa Indonesia di negeri Belanda. Mereka adalah Iskandar alias Banjar asal Kalimantan Selatan, Firdaus Muthoyib anak Asli Betawi, Wicak Adi Gumelar yang seorang pegawai di salah satu LSM berasal dari Banten, Garibaldi Utama Anugrah Atmaja alias Geri, makhluk ganteng yang bisa menurunkan pasaran cowok Indonesia di Belanda dan terakhir Anandita Lintang Persada, seorang perempuan tinggi semampai yang berwajah cantik.

Mereka berlima di pertemukan di stasiun kereta Amersfort pada saat terjebak badai yang membuat semua perjalanan kereta terhenti selama beberapa jam. Diawali oleh rokok kretek dan diselingi dengan curhat panjang awal mula mereka terdampar di negeri Kincir Angin ini. Sejak saat itu mereka mendeklarasikan diri mereka sebagai Aagaban (Aliansi Amersfort Gara-gara Badai di Netherlands).

Selain menceritakan bagaimana kegigihan Banjar mencari pekerjaan demi mengumpulkan beberapa Euro untuk bertahan hidup demi menjawab tantangan dari Goz sahabatnya, Lintang yang menyambi sebagai guru tari di KBRI setelah mendapat tawaran langsung dari Dubes Indonesia untuk Belanda dan terobsesi untuk menikah dengan Bule, Geri yang tidak pernah bermasalah dalam hal keuangan tetapi mempunyai masalah dalam perjalanan asmara nya yang tidak lazim, Daus yang selalu gagal untuk mencoba hal-hal yang berbau dosa serta Wicak yang sukses membawa tesisnya menjadi salah satu dari 10 nominasi tesis terbaik. Novel ini juga turut menyertakan beberapa tips dan trik ala Aagaban untuk bertahan hidup dan info2 menarik yg bisa di dapat di Belanda. Mulai dari kiat merokok, seputar belanja, bersosialisasi, kegiatan2 yg bisa dilakukan untuk mengisi waktu luang, event2 menarik, kiat seputar sepeda dan pernak perniknya, kiat jitu jadi pelajar teladan, kiat menghadapi birokrasi, tips mencari rumah atau kamar di Belanda, sampai dengan tips ber backpacking keliling Eropa.

Satu cerita dengan empat penulis yang menyajikan gaya penulisan yang sama dan bahasa yang mudah dicerna, menjadikan novel ini layak di baca.
Launching dan diskusi novel ini telah dilaksanakan pada tanggal 1 Mei kemarin bertempat di FAB cafe toko buku Gramedia Grand Indonesia, Jakarta dengan menghadirkan dua dari empat penulisnya, yaitu Wahyuningrat dan Adept Widiarsa.

Minggu, 05 April 2009

Micro Teaching......

Tanggal sebelas Maret yang lalu, aku mendapat telpon dari salah satu SD IT yang ada di Palembang untuk Micro Teaching pada tanggal 13 Maret. Sebelumnya memang aku pernah mengirimkan lamaran kesana untuk posisi guru matematika. Tujuan aku memasukkan lamaran kesana, pertama ada keinginan untuk kembali ke Palembang dan kedua ingin kembali ke profesi awal sebagai seorang guru.

Dilatarbelakangi dua tujuan tersebut, tanpa berfikir panjang aku pun langsung memesan tiket PP untuk ke Palembang. Alhamdulillah aku diberi kemudahan mendapatkan tiket dengan harga murah. Maka pada tanggal 12 malam, selepas jam kantor akupun langsung menuju bandara untuk mengambil penerbangan terakhir ke Palembang. Seyogyanya pesawat tersebut berangkat pada pukul 20.10, tetapi krn ada sesuatu dan lain hal, maka pesawat baru take off pukul 9.00.

Setelah mengalami pendaratan yg cukup menegangkan (ceritanya ada disini ) akhirnya aku dapat menjejakkan kakiku kembali di tanah kelahiran ku sekitar pukul 22.30. Bambang, adik bungsu ku sudah menanti sejak satu jam yang lalu. Saat itu, malam sudah tergolong larut untuk ukuran Palembang, Bambang memacu motornya dengan santai, sambil sesekali bercerita tentang segala hal. Setengah jam kemudian, kita tiba dirumah, Ibuku dan adik perempuanku Pipit langsung terjaga begitu mendengar suara motor Bambang. Bukannya langsung istirahat untuk mempersiapkan Micro Teaching besok, aku malah bercerita ttg perjalanan ku ke Banjarmasin beberapa hari yang lalu. Setelah puas bercerita sekitar pukul 2 pagi kita pun masuk ke kamar masing2 dan tidur......

Janji ketemu dengan pihak sekolah jam 7.00, tetapi aku baru tiba disana pukul 7.30. Begitu mau memasuki gerbang sekolah, aku langsung dihadang oleh satpam disana dan menanyai apa keperluan ku dan ingin bertemu dengan siapa. Setelah menjelaskan maksud dan tujuan kedatanganku, akhirnya aku dipersilahkan memasuki gedung sekolah tersebut. Bagitu masuk ke pintu utama, aku langsung ditegur oleh salah seorang guru "put off your shoes please". Aku baru mengetahui, ternyata di area sekolah tersebut dilarang menggunakan alas kaki.

Setelah berbasa basi sebentar, memperkenalkan diri, dijelaskan beberapa peraturan dan ketentuan yang berlaku disekolah tersebut, aku pun ditanya kembali, apakah tetap ingin melanjutkan Micro Teaching pada hari itu. Sebetulnya, setelah diberitahukan peraturan dan ketentuan tersebut, aku sudah tidak berminat untuk mengajar di sekolah ini, tetapi karena didera rasa rindu yang menggebu untuk merasakan suasana kelas dan tentunya aku tidak mau rugi karena telah habis banyak biaya untuk menghadiri test ini, maka aku pun mengiyakan untuk melaksanakan Micro Teaching pada hari itu.

Sekitar pukul 7.45, aku diberikan materi Perkalian pada bilangan pecahan yang akan diajarkan di kelas 5 selama satu jam pelajaran (35 menit) sebagai bahan penilaian terhadap cara mengajarku nantinya. 5 tahun sudah aku sudah menanggalkan profesiku sebagai guru matematika, ada rasa nervous dan excited pada saat itu. Begitu membuka pintu kelas, melihat tatapan ingin tahu dari para siswa, inilah yang menjadi kekuatan ku untuk terus melanjutkan Micro Teaching pada hari itu.

"Assalammu'alaikum" sapa ku kepada para siswa, dengan antusias yang bercampur dengan keheranan mereka menjawab salamku "Wa'alaikumsalam". Mungkin di benak mereka mempertanyakan, siapa guru yang baru saja menyapa mereka dan mengapa guru mereka yang sebenarnya mengambil tempat di belakang, duduk bersama mereka. Menjawab keheranan mereka, akupun memperkenalkan diriku.

Sambil mengingat2 apa saja yg harus aku lakukan dalam mengajar, introductory aku ambil sekitar 5 ~ 7 menit, menyapa siswa, menanyakan kabar mereka dan menanyakan materi terakhir yang sudah diberikan. Setelah itu, memasuki paruh kedua pelajaran, aku mengajak siswa untuk mengingat2 materi sebelumnya, dimulai dari apa itu bilangan pecahan dan apa saja operasi bilangan itu sendiri. Setelah di refresh, barulah aku mengajak para siswa untuk bersama sama merumuskan apa saja yang harus dilakukan dalam memecahkan satu kasus dengan menggunakan perkalian pada bilangan pecahan. Tanpa terasa aku diingatkan bahwa waktu sudah hampir habis, maka mau tidak mau aku harus memperikan summary pada materi yg baru saja dibahas.

Hahh....... merasakan suasana kelas, melihat siswa yg antusias menyimak, bertanya, tidak memperhatikan, membuat kegaduhan, cukup mengobati rasa kangen ku pada saat itu. Tetapi karena apa yg akan didapat dan tuntutan yg harus dikerjakan tidak sesuai dengan apa yg aku bayangkan jika aku diterima disana, maka dalam hati aku memutuskan tidak akan melanjutkan proses penyeleksian ini.

Agak mengherankan memang, salah satu institusi pendidikan yang menamai dirinya Islam Terpadu, memberikan punishment terdahap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan, semuanya diukur dengan materi. Tuntutan yg mereka berikan terhadap guru, tidak sesuai dengan apa yg mereka berikan terhadapnya. Biaya pendidikan yang tinggi yang dibebankan terhadap siswa ternyata berbanding terbalik dengan apa yang didapat para pengajar disana. Salah seorang temanku yg telah lebih dulu mengetahui kondisi di sekolah ini mengatakan "mereka menganggap siswa dan orang tua itu adalah client yg harus mereka puaskan dalam institusi pendidikan ini".

Jadi, dengan kasus ini aku sempat berfikir, apa yang terjadi dengan pendidikan di Indonesia saat ini. Apakah tujuan dan hakikat dari pendidikan telah bergeser, dari mendidik dan mencerdaskan siswa ke memuaskan orangtua siswa dengan pendidikan yang mahal ?

Maliq & D Essentials

Maliq & D'Essentials ~ Pilihanku

Get more songs & code at www.stafaband.info